Wadah Rasan-Rasan PMKRI Purwokerto

Monday, August 28, 2006

Senang sekali rasanya setelah acara gathering kemarin, dimana saya berkesempatan untuk bertemu dengan rekan-rekan alumni yang lain yang jauh lebih senior daripada saya sehingga saya berkesempatan untuk menimba ilmu dan juga rekan-rekan dari purwokerto yang masih aktif di perhimpunan sehingga saya berkesempatan untuk membuka kembali kenangan-kenangan idealisme saya yang relatif tersisihkan dari kesibukan-kesibukan rutin saya sebagai kaum pekerja di Jakarta, serta rekan-rekan lain yang memberikan suasana nostalgia bagi saya.

Pada kesempatan ini, saya atas nama saya sendiri mengucapkan banyak terima kasih kepada semua partisipan yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk dapat hadir dan berbagi pada kesempatan gathering kemarin. Kepada rekan-rekan yang berhalangan hadir, saya hanya bisa mengucapkan .... kesian deh lu, soalnya acaranya kemarin benar-benar menyenangkan. Dengan keberagaman status kita saat ini, adalah suatu pengkayaan jika kita bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki status yang berbeda dengan kita. Seperti yang telah saya singgung di atas, bertemu dengan rekan yang lebih sukses, saya menjadi termotivasi untuk meraih kesuksesan yang melebih apa yang telah saya dapatkan saat ini; bertemu dengan yang telah menikah dan berkeluarga, saya termotivasi untuk memiliki keluarga saya sendiri pula; bertemu dengan yang masih sendiri walau umur sudah lebih dari 30 tahun, saya termotivasi untuk tetap menjalani kehidupan seperti saat ini yang masih sendiri (kok kontradiktif?); bertemu dengan yang masih idealis, saya termotivasi untuk menyeimbangkan kehidupan saya untuk tidak semata-mata mengejar materi; bertemu dengan menjalani kehidupan secara sederhana, santai, tenang, saya termotivasi untuk menyadari makna kehidupan yang sebenarnya.

Dengan kehadiran rekan-rekan dari purwokerto, topik pembicaraan menjadi cukup serius mengingat kita semua mempunyai ikatan emosional dengan perhimpunan kita tercinta. Apalagi dengan paparan dari rekan-rekan purwokerto mengenai permasalahan (yang bisa dibilang klasik) yang dihadapi saat ini yakni berkurangnya minat mahasiswa/i untuk terlibat dan bergabung dengan perhimpunan. Alasannya pasti beragam, dari yang (mungkin) sibuk pacaran, sibuk kuliah, sibuk ngutang, sibuk cari beasiswa, sibuk buka usaha, sibuk nonton tv/film, sibuk naik gunung, sibuk maen game, sibuk kursus tambahan, sibuk bengong, sampe mungkin ada yang sibuk ngitungin sebenarnya berapa jumlah korban dosen cabul atau sibuk mencari tahu, kenapa ulfa tiba-tiba ingin mengajukan cerai setelah pulang umroh (nah lho?).

Adalah wajar jika tiap-tiap orang memiliki prioritas yang berbeda-beda dalam hidupnya. Namun demikian tidak berarti bahwa orang-orang dengan prioritas yang berbeda itu tidak dapat disatukan, karena dari orang-orang tersebut, apabila kita jeli, kita pasti dapat menemukan beberapa persamaan atau beberapa minat yang sama dari orang-orang yang memiliki prioritas yang berbeda. Dan justru disinilah yang menarik. Karena untuk dapat melakukan hal itu kita perlu melakukan semacam eksperimen psikologi. Kita mencoba mencari tahu apa latar belakang seseorang melakukan sesuatu, apa motivasi dia, apa harapan dia, dsb. Ini mengenai mempelajari orang lain, suatu pelajaran yang akan sangat bermanfaat dalam kehidupan kita, baik dalam kehidupan berumah tangga (memahami pasangan, anak, mertua, ipar, dsb), kehidupan di dunia kerja (memahami atasan, bawahan, konsumen, supplier, pejabat, rekan lainnya), kehidupan bernegara (memahami pemerintah), dan lain-lain (perhatikan kalau orang sudah menggunakan kata lain-lain berarti dia sebenarnya sudah tidak bisa menemukan contoh lain lagi untuk dibeberkan tapi dia ingin terlihat bahwa dia masih ada banyak contoh lain untuk dibeberkan).

Kita hanya membutuhkan sedikit pemikiran yang lebih cerdas untuk mempercantik kemasan perhimpunan agar menjadi menarik bagi rekan-rekan mahasiswa. Namun ada satu hal yang perlu diingat, kemasan boleh berubah disesuaikan dengan kebutuhan, dengan perubahan atau tren namun isi nya sendiri tidak boleh berubah karena dalam banyak hal, terkadang kita harus berubah dan beradaptasi untuk dapat tetap survive; banyak hal yang bisa kita kompromikan, namun untuk hal-hal yang prinsipil seperti misi perhimpunan untuk mengemban amanat penderitaan rakyat, ini tidak mengenal kata kompromi.

Selanjutnya adalah langkah-langkah apa yang dapat dilakukan untuk mencapainya. Sebenarnya banyak rekan-rekan kita yang lebih berkompeten untuk memberikan tips dan trik sehubungan dengan bagaimana menjalankan organisasi seperti perhimpunan kita, bagaimana menarik anggota-anggota baru baik dengan cara pendekatan personal melalui grass root ataupun dengan cara yang lebih agresif melalui publikasi. Saat ini saya mencoba untuk melontarkan terlebih dahulu beberapa ide dari saya sehingga mungkin nanti akan ada tanggapan dan komentar dari rekan-rekan lainnya yang lebih kompeten (istilah kerennya ’memancing harimau turun gunung’).

1. Festival Band
Menggunakan momen suit sepentin perhimpunan, dapat diadakan festival band dengan piala/trophy yang akan diperebutkan setiap tahun secara bergilir (piala keuskupan, piala mendoan, piala sudirman, dll). Tim inti panitia dari perhimpunan, selanjutnya untuk pelaksana bisa dari luar (outsource) atau dari intern jika SDM-nya mencukupi. Acara yang dilakukan dengan promosi yang besar dengan mengikutsertakan nama perhimpunan paling tidak merupakan salah satu tahap yang efektif dalam penciptaan brand awareness. Tujuan utamanya adalah memperkenalkan terlebih dahulu nama atau eksistensi perhimpunan. Selanjutnya dampak2 yang diharapkan adalah bertambahnya orang yang tertarik dan ingin bergabung, adanya jaringan dengan korporasi terutama bagian marketing yang di kemudian hari mungkin dapat digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan pekerjaan atau menjalankan usaha, surplus dana yang dapat digunakan untuk mendanai program kerja2 lainnya yang merupakan cost centre (proyek rugi).

2. Seminar (Gratis)
Seminar diadakan oleh perhimpunan dengan pembicara dari alumni perhimpunan, bisa dari cabang, cabang lain atau dari pusat. Tema yang diangkat bisa yang umum seperti sukses meniti karir, pengembangan kepribadian, public speaking, topik2 kesehatan, dan lain-lain. Kerjasama bisa dilakukan dengan pihak2 yang relevan. Bisa dengan institusi2 swasta, gereja, institusi2 pendidikan, dll, sejauh kita bisa menjembatani kepentingan mereka dan menonjolkan manfaat yang akan mereka peroleh dengan diadakannya seminar ini. Dengan membawa nama perhimpunan, alternatif ini juga efektif sebagai media komunikasi untuk menyampaikan mengenai eksistensi perhimpunan, di samping menghidupkan perhimpunan pula dengan adanya aktivitas semacam ini.

3. Beasiswa
Beasiswa dapat bersifat umum, sumber dana bisa menggunakan dana yang dimiliki perhimpunan atau bekerjasama dengan organisasi lain yang bersedia memberikan bantuan beasiswa. Yang perlu dipersiapkan adalah konsep pemberian beasiswa ini. Contoh yang menarik dan berhasil adalah Sampoerna Foundation.

4. Artikel
Alumni ataupun rekan yang masih aktif dapat membuat tulisan2 (artikel) untuk dimuat di surat kabar atau majalah atau paling tidak blog (di dunia maya) yang mengusung tema kerakyatan, kemiskinan, pembangunan dll dengan mencantumkan nama organisasi mengikuti nama penulis. Hal ini juga akan efektif untuk mengangkat citra perhimpunan.

5. Retret atau Latihan Kepemimpinan
Retret diadakan dengan bekerjasama dengan organisasi kerohanian di kampus atau di gereja. Tema bisa dicari dengan berdialog dengan kaum rohaniwan/ti. Surplus dana (jika ada) bisa dialokasikan ke cost centre yang ada di perhimpunan. Jika tidak ada surplus, paling tidak acara retret ini sudah menjadi sarana perkenalan perhimpunan dengan peserta retret yang tidak harus berasal dari anggota perhimpunan. Contoh konkret, sewaktu masih sma, saya pernah mengikuti latihan kepemimpinan yang diadakan oleh muda-mudi gereja saya yang bekerja sama dengan perhimpunan kita cabang palembang. Materinya sedikit banyak ada kemiripan dengan materia mpab-mabim-lktd.

6. Koor
Anggota perhimpunan terlibat di gereja atau bergabung secara kolektif dengan muda-mudi di gereja sehingga terjadi perkenalan baik dengan muda-mudi yang sudah kuliah maupun yang masih sma, sehingga diharapkan saat mereka kuliah, mereka sudah tidak asing lagi dengan perhimpunan dan tertarik untuk bergabung.

7. Counter Flexi
Ada usulan dari salah satu rekan (saat gathering kemarin) untuk mengatasi masalah dana, bisa dengan menjalankan suatu usaha dengan kontribusi dari alumni tanpa ada pihak yang dirugikan atau harus membayar lebih mahal sementara dari usaha tersebut ada surplus dana yang dapat digunakan untuk kepentingan perhimpunan.

8. Proposal Kegiatan
Contoh ekstrim adalah bencana di aceh dan di yogya. Dalam dunia LSM, sudah jamak jika ada LSM2 yang oportunis, sehingga setiap ada bencana, LSM2 tersebut dengan sigap menyiapkan proposal2 bantuan kemanusiaan untuk diajukan ke lembaga2 donor (bisa lokal bisa juga mancanegara). Kunci utama adalah membuat proposal yang menarik di mata donor sehingga mereka dapat dengan mudah memberikan dana yang diminta. Namun ada konsekuensi yakni pertanggungjawaban penggunaan dana harus profesional agar pada kesempatan lain, donor yang bersangkutan tidak berkeberatan.

9. Dana Abadi
Usulan dana abadi sebenarnya cukup kuno, namun tidak ada salahnya untuk dipertimbangkan. Sebagai organisasi yang tidak memiliki donor tetap, agar kegiatan organisasi dapat berjalan secara berkesinambungan, akan lebih baik jika perhimpunan memiliki dana abadi. Sumber dana abadi bisa berasal dari alumni melalui setoran dalam jumlah tertentu yang kemudian didepositokan dan bunga deposito tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk cost centre perhimpunan. Alternatif lain bisa juga dari surplus aktivitas tertentu yang kemudian sebagian disisihkan untuk dana abadi. Dan yang lain bisa pula dengan kombinasi, misalnya dengan sejumlah dana tertentu dari alumni yang sifatnya pinjaman lunak, dana tersebut dikelola sedemikian rupa dengan orientasi fund raising sehingga setelah jumlah dana mencapai nilai tertentu (atau dalam waktu tertentu) dana awal dari alumni harus dikembalikan.

Ide-ide tersebut di atas hanyalah wacana saja agar paling tidak rekan-rekan di Purwokerto yang selama ini lebih banyak melaksanakan program kerjanya kebanyakan mengacu kepada program kerja yang dulu pernah dijalankan atau variasi dari program kerja yang sudah ada bisa melihat adanya alternatif-alternatif lain.

Salam,
Karim